Scouting for Boys: A Handbook for Instruction in Good Citizenship

Kita semua tentu ingat waktu SD pernah diberi tahu bahwa Bapak Pramuka Sedunia adalah Robert Baden-Powell. Tapi apakah pernah terpikir, bagaimana Baden-Powell dapat memperoleh gelar tersebut? Bagaimana ia dapat mempelopori pembentukan organisasi semacam Pramuka tersebut, mengapa pelatihan dan aktivitas Pramuka sedemikian rupa, dan untuk apa organisasi ini sebenarnya, pada awalnya dibentuk? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat diperoleh dari buku Scouting for Boys.

Buku ini disusun oleh Baden-Powell (B-P) untuk mendokumentasikan berbagai aktivitas, peraturan dan pelatihan yg diperlukan oleh boy scouts, ditujukan pada pembaca berusia 9-12 tahun (dan pada instruktur mereka). Mengingat mudanya usia target pembaca, dan agar mudah dimengerti, isi buku ini berupa alinea-alinea pendek yang silih berganti merupakan petunjuk dan cerita pendek sebagai contoh. Alinea-alinea tersebut juga dilengkapi gambar-gambar/sketsa untuk memperjelas maksudnya.

Sejarah terbentuknya Boy Scouts ini sangat menarik. Kala itu masih sering terjadi perang, di mana banyak dibutuhkan semacam messenger boys yang sering harus melalui bahaya dalam melaksanakan tugasnya. Para kurir berusia muda ini harus mampu menghindari benturan fisik di medan perang dan juga harus mampu bertahan bila mereka harus melalui alam bebas untuk menuju pihak yg mereka tuju. Di samping banyaknya perang, kala itu Inggris disibukkan pula dengan beberapa daerah koloni, di antaranya di India dan Afrika, di mana pemandu (= scout) sangat diperlukan. Para pemandu ini harus mampu membuka daerah baru, menaklukkan dan mengontrol penduduk setempat. Para pemandu ini dipersiapkan sejak usia muda sehingga pantas disebut sebagai boy scouts. Oleh sebab itu, pelatihan boy scouts memang bernada militer, sesuai dengan kebutuhan masa itu. Seorang boy scouts disebutkan harus mampu mengoperasikan senjata api, harus berfisik kuat dan tangkas, harus terampil menghadapi orang cedera (bahkan jenazah) dan harus sanggup bertahan hidup di alam bebas (termasuk berkemah, berburu dan membuat api).

Namun di samping segala pelatihan fisik dan mental secara militer, buku ini juga mengajarkan nilai-nilai kehormatan dan budi pekerti yang selayaknya dimiliki setiap boy scouts. Antara lain mengharuskan mereka memenuhi setiap kata-kata dan janji, membunuh hewan hanya bila hendak memakannya, dan siap menolong siapapun dengan gembira. Sikap ksatria ini diilustrasikan B-P antara lain dengan menceritakan perilaku para ksatria di jaman Raja Arthur. Ilustrasi berupa cerita-cerita pendek semacam ini sangat menarik, meskipun terkadang contoh yg diambil B-P terlalu ekstrim untuk ukuran sekarang. Selain dari sejarah/legenda Inggris, B-P mengambil contoh-contoh baik dari kejadian-kejadian nyata (potongan-potongan berita di koran atau kisah-kisah kepahlawanan dan kesatriaan dari Inggris dan segala penjuru dunia) maupun semi-fiksi (kisah Sherlock Holmes, Pocahontas dan tokoh Kim/ karya Rudyard Kippling). Dalam buku ini dianjurkan pula permainan-permainan yang dapat mengasah ketrampilan para boy scouts, berbagai teknik simpul, morse, salam sandi, berbagai medali penghargaan dan tingkatan/ranking dalam organisasi.

Menilik kemasan isinya, B-P dengan lihai telah berhasil merangkum semua yang menarik bagi anak laki-laki dalam suatu organisasi. "Scouting takes boys seriously" - demikian sebuah kutipan - dan ini memang adalah appeal dari sebuah organisasi yg kita sebut "Pramuka" ini. Mengagumkan, bahwa buku petunjuk ini telah tersebar luas ke seluruh dunia dan diadopsi menurut kebutuhan geografis & budaya masing-masing.

Sumber : https://www.goodreads.com/review/show/3778966
#Pramuka Aktif 

0 comments:

Thanks for respons

Followers